Minggu, 02 Maret 2014

HATIMU MEMBEKU


Harus bagaimana lagi
semua telah aku lakukan
untuk membuatmu yakin
akan perasaanku

Tapi kau tak pernah memahami
mengerti akan kesakitanku mencintai
telah aku tapaki kerikil-kerikil runcing
telah aku lewati berkeloknya jalanan kecil
hanya untuk menemui kau
hanya untuk menyatakan rasa

Aku tahu kau sangat paham
tapi hatimu telah membeku
dan aku belum mampu
memecahkan bongkahan es di hatimu

Tapi ingat, aku akn menjadi kapak
menghancurkan segala macam tembok
yang menghalangi rasamu
dengan kesabaran dan keikhlasan
pasti akan berbuah kebahagiaan

TAK USAH KAU TANGISI

Sorotan matamu
lembut sikapmu
membuatku cinta
cinta awal jumpa

Janjimu tak pernah ku lupa
takkan khianati cinta
hingga suatu ketika
kaunmencoba tuk khianatinya

Aku pikir itu hanya canda
tapi itu memang nyata
kau dustai cinta
tuk dirinya yang kau puja

Semua itu telah berlalu
kini kau datang merayu
agar aku kembali padamu
merajut cinta bersamamu

Aku tak mungkin bisa
menerima semuanya
seperti semula
seperti dulu kala

Tak usahlah kau tangisi
aku takkan peduli
walau sampai mati
aku tak mau kembali

Itu cuma angan
cuma impian
itukan yang kau ingingkan 
lebih baik aku kau lupakan

SENJA DAN MASA LALU


Merindukan Senja

Senja sore ini memancarkan keindahan khasnya tapi sebentar lagi sinarnya akan sirna ditelan gelapnya malam. Tak perluk khawatir! karena esok sore, sama seperti sore ini, senja masih dapat kita nikmati lagi keindahannya. Begitu pula sebuah kehidupan, dikala kesedihan telah datang menjelma, namun esok pasti akan ada harapan akan kebahagiaan.
Sore ini aku melihat cahaya senja, sinarnya indah menyejukkan jiwa. Bisa kau lihat juga di ujung sana. Namun, hal ini mengingatkan aku akan sesuatu. Kesendirian, ya sekarang aku merasa sangat kesepian.
Aku seorang gadis berumur 19 tahun. Aku ingin dewasa sejalan dengan umurku. Tak perlu memiliki sifat seperti anak kecil yang menghabiskan banyak waktunya untuk bermain bersama teman sebaya, tak juga harus seperti seorang yang telah dewasa melebihi umurku, yang harus mengurus keluarga kecilnya. Memikirkan masalah ekonomi dan tetek bengeknya.
Sejak kecil aku selalu diselimuti dengan kasih sayang, rumah yang orang tuaku bangun telah menjadi surga dalam hidupku. Surga yang mungkin orang lain tak pernah mendapatkannya. Namun itu dulu, ketika aku masih kecil. Menapaki umurku yang remaja kini semua semakin terasa berubah.
Terlahir menjadi anak dari keluarga yang broken home tak pernah sedikitpun terpikirkan olehku. Tapi ini nyata, aku yang belum bisa dengan lapang dada menerima kenyataan ini. Kenyataan yang sangat pahit. Madu termanispun tak dapat menghilangkan kepahitannya.
Orang tuaku resmi bercerai ketika aku remaja,  remaja yang tahu benar apa arti sebuah perceraian. Memang benar puncak sebuah kebahagiaan akan kita dapatkan apabila kita bisa melewati sebuah ujian, namun orang tuaku lain. Mereka memilih jalan yang berbeda, atau dengan kata lain mereka tak dapat melewati ujian itu dan alhasil perceraianpun terjadi.
Mungkin kalian berpikir, masa perceraian itu ketika aku SMP atau awal masuk SMA. Namun harus kalian ketahui, masa itu terjadi ketika aku kelas 3 SMA. Disaat anak-anak lain mendapatkan banyak wejangan dari orang tua mereka, untuk lebih rajin lagi dalam belajar,  aku justru lain. Aku mendapatkan nyanyian yang sangat memekakkan telingaku. Nyanyian yang selalu mereka nyanyikan sebelum aku terbangun dan aku tak tahu kapan nyanyian itu akan berhenti. Karena aku tertidur sebelum nyanyian itu memiliki tanda-tanda akan berhenti.
Try out, ya test uji coba untuk mengetahui apakah kita lulus ujian nasional atau tidak.  Pembagian hasil try out pertamaku menyatakan aku gagal atau sama artinya dengan tidak lulus, try out kedua juga gagal, ketiga dan keempatpun tak jauh berbeda selalu gagal. Aku tak pernah menyalahkan orang tuaku dalam hal ini, mungkin aku saja yang kurang berkonsentrasi tapi memang tak bisa dipungkiri bahwa mereka juga ikut andil dalam hal ini. Nyanyian yang selalu mereka nyanyikan setiap hari telah mengambil paksa rumus yang telah aku simpan dalam memori, rumus itu berterbangan, melayang-layang seirama dengan nada yang mereka nyanyikan.
Tiba saat pengumuman ujian nasional. Dimana masa depanku di tentukan oleh angka-angka pada selembar kertas. Ya seperti kertas ini. Hasil ujianku berbeda dari hasil try outku. Memang ujian nasionalku lulus, namun nilai rata-rataku tak lebih dari 5,6 Iya tak lebih dari 5,6. Aku yang setiap tahunnya selalu masuk 3 besar di kelas harus bisa menerima kenyataan ini. Alhasil aku harus mengubur jauh impianku masuk perguruan tinggi negeri, mungkin takdirku hanya bersekolah di perguruan tinggi swasta.

Ah sudah lah, tak usah mengingat masa yang dulu. Cukup hanya sebagai kenangan saja tak perlu aku ungkit lebih jauh lagi. Yang terpenting impian aku untuk bersekolah di perguruan tinggi negeri kini sudah terkabul. Karena aku percaya akan ada kebahagiaan yang datang setelah kesedihan, dan itu semua terbukti. Sama seperti senja yang selalu aku nantikan kedatangannya.

Jumat, 28 Februari 2014

For Mas Rara


semangat untuk menjemput harimu nan indah

Walau bedebah mulai menhadangmu dengan sumriah
namun aku tau kau tetap maju pantang untuk menyerah
Karena pendirianmu takkan pernah goyah dalam melangkah

Cita-cita adalah harapan
Mendoakan dengan penuh keikhasan
Menantimu dalam sebuah penantian
hingga kau datang dengan kesuksesan

Walau banyaknya tetes airmata takkan aku perlihatkan
biarkan luruh bersama kesetiaan dalam kerinduan
Melepasmu dengan sebuah senyum itu kewajiban
kebahagiaan itu yang akan aku tampakkan

Senyum Rahasiamu :)

Pagi ini mentari bersembunyi di balik awan. Entah apa yang membuatnya nggan menjalankan rutinitas hariannya menemani dan menyinari bumi. Dia seolah sedang menyembunyikan sesuatu hari ini. Menyendiri, menyinari bumi, dan menjauhi alam tanpa sedikitpun memberi penjelasan akan sikapnya. Bumi, alam, dan semesta lebih memilih diam dibanding mempertanyakan langsung akan sikap mentari hari ini, mereka mengetahui bahwa samapai kapanpun mentari tak akan pernah menjawab pertanyaan dari mereka. Hal ini sering dilakukan mentari ketika masalah mulai berdatangan kepadanya bagai bunga yang bermekaran di musim semi. Mentari hanya memerlukan waktu untuk bermanja-manja dengan waktu. Setelah itu dia akan kembali lagi seperti biasa. Senyum dan Kebahagiaan akan terlihat dari wajahnya.

Dering jam beker memekakkan telingaku pagi ini. Membangunkan aku dari mimpi terindah. Aku seorang  remaja yang baru saja masuk SMA. Aku harus sadar bahwa aku bukan anak kecil lagi yang masih sering bermanja-manja dengan orang tua di rumah. Aku bergegas bangun bangun, lalu menyambar handuk dan memasuki kamar mandi.

Senin, 24 Februari 2014

Selamat Menempuh Hidup Baru Sahabatku...

Aku, Atun, Indri, teddy, dan Ipank (16 Feb 14)
Sesuatu yang sangat menggembirakan adalah melihat sahabat kita menikah. Melihat senyum yang selalu mengembang dari bibir merahnya. sungguh hati ini ikut senang ketika engkau sahabat sedari SMP yang selalu siap menjadi teman curhatku setiap saat, melepas masa kesendirianmu. kini engkau telah menjadi satu dengan suamimu. Sifat kalian harus dilebur menjadi satu agar kalian senantiasa menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. semoga keluarga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah... Amin

Tetaplah menjadi sahabatku yang aku kenal sedari dulu, namun harus kau ingat yang aku maksudkan ialah sahabat yang senatiasa memberikan kebahagiaan bagi orang disekelilingmu, termasuk aku. menjadi istri yang selalu siap melayani suami, berbagi rasa suka maupun duka, dan semoga engkau menjadi wanita solikhah, sehingga surga selalu sedia terbuka untukmu.

Hanya doa yang bisa kupanjatkan untuk melepas kepergianmu mennjemput kebahagiaan dan surga-Nya bersama keluargamu sekarang. aku selalu mencintaimu dan mengenangmu sebagai salah satu sahabat baikku..
Selamat ya ( Indri & Teddy)

Minggu, 23 Februari 2014

Kebencianku

Kau yang telah memilih untuk berubah
Mengapa harus aku yang menyesalinya?
Sekarang harus jalani apa yang telah ada
Karena aku telah memberikan kebebasan kepadamu
Dan kemauanmu tak pernah aku larang
Tapi harus kamu tahu terlebih dahulu
Tidak kamu lakukan untukmenyakiti aku

Intinya aku sangat benci dengan status-status itu!
Aku benci dengan kabar yang tak tersampaikan
Aku benci dengan sebuah rasa kehilangan
Dan aku benci dengan kekosongan hati ini

Mereka pernah bilang:
" Seandainya ada gundukan perasaan pilu
Boleh kamu kabarkan hal itu
Namun bila hati tertutup
Masukkan gundukan perasaan itu ke dalam kantong besar
Dan anggap semua baik-baik saja
Terpaku di layar Laptop